Gejala, Faktor Risiko, dan Cara Mengatasi Dislokasi

Gunawan

 

Gangguan kesehatan pada tulang dan persendian termasuk sering dialami seseorang karena berbagai hal. Salah satunya adalah kasus dislokasi yaitu cedera pada sendi yang terjadi karena tulang bergeser dan keluar dari posisi semula.

Kondisi tulang yang mengalami pergeseran tersebut harus segera ditangani agar dapat berfungsi normal kembali. Rasa nyeri dan sakitnya juga bisa segera mereda. Untuk itu, cara mengatasi dislokasi secara medis perlu ditangani oleh dokter yang terpercaya. Mengenai gejalanya, rasa sakit dan nyeri di tulang atau persendian jangan diabaikan dan segera memeriksakan ke dokter jika mengalaminya.

Gejala Dislokasi

Kondisi pergeseran tulang sampai keluar dari posisi normalnya ini sudah menjadi kasus yang terbilang parah. Sudah tentu tulang tidak bisa menumpu dengan baik dan sendi yang cedera tidak bisa berfungsi dengan baik. Ditambah lagi, timbul rasa sakit yang luar biasa akibat efek dari perubahan posisi tulang tersebut. Semua kondisi ini harus mendapatkan cara mengatasi dislokasi yang tepat dari dokter ahli.

READ  Penyebab Dislokasi, Gejala, Komplikasi, dan Pengobatannya

Terdapat berbagai gejala yang dirasakan penderitanya. Selain rasa sakit luar biasa dan timbulnya rasa nyeri, terdapat perubahan pada bentuk tulang. Bentuk persendian yang mengalami dislokasi menjadi janggal. Terjadi pula pembengkakan, lebam, dan warna kemerahan pada kulit di area sendi yang cedera.

Jika timbul rasa sakit yang luar biasa tersebut, sudah pasti ada yang tidak beres dengan tulang atau sendi. Jika demikian, terdapat penurunan fungsi atau bahkan tidak dapat berfungsi sama sekali untuk melakukan pergerakan. Gejala mati rasa atau kesemutan di area sekitar sendi juga terjadi saat dislokasi ini.

Faktor Risiko Dislokasi

Pergeseran tulang atau persendian tentu saja ada penyebabnya. Berbagai penyebabnya adalah karena cedera, kecelakaan, jatuh, dan sebagainya. Di balik berbagai penyebab tersebut, terdapat berbagai faktor risiko yang memicu timbulnya kondisi tersebut.

READ  Yuk, sehat bersama dengan cara mengatur pola makan yang baik

Sebelum mengetahui cara mengatasi dislokasi dengan tepat melalui tindakan medis, sebaiknya Anda mengetahui beberapa faktor risikonya agar bisa memahami kondisi yang dialami. Kegiatan olahraga termasuk memicu pergeseran tulang tersebut sampai memengaruhi persendian. Olahraga yang berisiko, seperti gulat, senam lantai, tinju, atau permainan bola besar (sepak bola, basket, futsal), bisa menyebabkan dislokasi jika tidak berhati-hati. Berolahraga tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu juga lebih berisiko cedera.

Kasus kecelakaan juga tidak sedikit yang sampai menimbulkan pergeseran tulang dari posisi normalnya. Faktor keturunan yang memengaruhi kondisi ligamen yaitu terlahir dengan ligamen yang lebih lemah sejak lahir juga berisiko memicu dislokasi ini. Faktor usia juga memengaruhi yaitu lebih rentan dialami orang lanjut usia dan anak-anak.

Cara Mengatasi Dislokasi

Dikutip dari halodoc.com, pada tahap awal dokter akan melakukan pemeriksaan diagnosis kepada pasiennya yaitu melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik di area yang mengalami trauma. Pada beberapa kasus, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu foto rontgen dan MRI. Foto rontgen ini diperlukan untuk melihat kerusakan yang terjadi pada sendi dan area di sekitarnya yang mengalami cedera atau bahkan patah tulang. MRI juga dibutuhkan untuk melihat kerusakan di jaringan lunak di daerah yang mengalami trauma.

READ  Berbagai Penyebab Disfagia yang Perlu Diwaspadai

Setelah dipastikan memang mengalami dislokasi, dokter memberikan penanganan. Cara mengatasi dislokasi yang tepat adalah dilakukan berdasarkan lokasi trauma dan tingkat keparahannya. Beberapa penanganannya adalah reduksi, imobilisasi, operasi, dan rehabilitasi. Semuanya dijalankan berdasarkan prosedur medis. Pengobatan tersebut juga disertai dengan perawatan di rumah dalam rangka proses pemulihan yaitu membatasi jumlah gerakan, mengistirahatkan sendi yang cedera, mengompres sendi, dan melakukan latihan sendi secara bertahap agar bisa kembali kuat dan berfungsi normal.

 

Sumber Artikel:

www.halodoc.com

www.alodokter.com

 

Sumber Gambar:

www.halodoc.com

hellosehat.com